Amien Rais: Jokowi Hati-hati Kalau Sampai Habib Rizieq Ditangkap

Jurnalpolitik.id – Mantan Ketua MPR RI yang kini menjabat Ketua Penasihat Persaudaraan Alumni 212, Dr. H. Muhammad Amien Rais, meminta aparat penegak hukum tak bertindak sewenang-wenang menyikapi kabar kepulangan pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Muhammad Rizieq Shihab pada Rabu (21/2) besok.

Menurut Amien, kasus yang membelit Rizieq, yakni dugaan konten pornografi, tidak sebanding dengan prostitusi di tempat hiburan Alexis yang beberapa waktu lalu telah dicabut izin operasionalnya oleh pemerintah provinsi DKI Jakarta.

“Percakapan pornografi yang dituduhkan itu bukan satu per seribunya dengan prositusi ala Alexis,” kata Amien di gedung Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Jakarta, Selasa (20/2).

Amien menambahkan, umat Islam tak segan bertindak jika kepolisian berani menangkap Rizieq. Menurutnya, umat Islam selama ini telah bersikap sabar dengan melakukan aksi berjilid 411, 212, hingga 313 secara damai.

“Saya pesan rezim penguasa ini hati-hati, umat Islam tidak pernah mau cari gara-gara. Tapi kalau imam besarnya dihina, dipelintir proses hukum untuk memojokkan, saya sudah katakan hati-hati. Negeri ini milik kita semua, jadi jangan macam-macam,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan Presiden Joko Widodo agar hati-hati dan tak bertindak semaunya kepada Rizieq.

“Ini langsung Pak Jokowi saya sampaikan hati-hati. Anda adalah lurah negeri ini, beritahu aparat keamanan jangan jemawa, jangan takabur karena kita juga pemilik sah negeri ini,” ucap Amien.

Baca juga: Kapan Rizieq Pulang? Pendiri Presidium Alumni 212: Tanya ke Anies, Dia yang Paling Sering Berkomunikasi

Amien Rais: Ada ‘Kekuatan Siluman’ yang Ingin Pecah Belah Bangsa

Jurnalpolitik.id – Politisi senior mantan ketua umum PP Muhammadiyah, Amien Rais, angkat bicara soal aksi penyerangan yang terjadi di Gereja Santa Lidwina, Sleman, Yogyakarta pada Minggu (11/2/2018) pagi.

Amien menyebut ada “kekuatan siluman” di balik penyerangan tersebut.

“Jadi, kalau saya melihat ini ada kekuatan siluman,” kata Amien di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Senin (12/2/2018) malam.

Amien menjelaskan, yang dimaksud kekuatan siluman adalah kekuatan yang tak terlihat dan tidak diketahui dari mana asalnya. Namun memiliki keinginan untuk memecah belah bangsa.

Amien menilai, kekuatan siluman ini ingin membuat hubungan umat beragama di Indonesia hancur.

“Kekuatan enggak kelihatan sedang merongrong bangsa ini. Tampaknya, ingin mengadu umat beragama supaya Indonesia ini hancur,” ujar Amien.

“Siapa? Tak cari itu,” katanya.

Baca juga: Untuk Kaum Intoleran, Jokowi: Tidak Ada Tempat Bagimu!

Terkait Reklamasi, Amien Rais Puji Anies dan Sindir Salah Satu Menteri Jokowi

Jurnalpolitik.id – Mantan Ketua MPR RI, Amien Rais, memuji keputusan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang mengaku akan menghentikan proyek reklamasi di Teluk Jakarta.

“Salah satu isu yang paling menonjol di negeri ini adalah apakah reklamasi Jakarta lanjut atau ditutup. Beliau (Anies) dengan senyum, dengan tenang menjawabnya,” kata Amien di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya, Jakarta Pusat, Minggu (11/2/2018).

Seusai memuji Anies, Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) itu kemudian menyentil salah satu menteri di Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menentang keras sikap Anies terkait reklamasi.

Amien tidak menyebutkan langsung nama menteri yang dimaksud.

“Itu menteri yang kadang-kadang pasang wajah angker di TV, saya lupa namanya, yang akan meneruskan (reklamasi), beliau mengatakan, ‘Kita tunggu sampai ke mana (sikap) dia gubernur baru’,” ucap Amien.

“Jawabnya (Anies) sampai sangat jauh sekali, yaitu ditutup reklamasi itu,” lanjutnya.

Di acara ‘Mata Najwa’ dengan tema ‘Refleksi 100 hari kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan-Sandiaga Uno‘ yang ditayangkan stasiun televisi Trans7, Rabu (24/1/2018), isu reklamasi ini menjadi salah satu topik pembahasan.

Najwa Shihab, sebagai pemandu acara, memutar video pernyataan dari Menko Maritim, Luhut Binsar Pandjaitan.

Dalam video, luhut dimintai tanggapan mengenai Gubernur DKI, Anies Baswedan, yang nampaknya resisten (menolak) reklamasi.

Luhut mengatakan, “Kalau dia agak resisten, ya lihat aja. Silahkan ditunjukkan resistensinya dimana. Saya enggak ada urusan. Tapi jangan bilang macam-macam sama saya, saya kejar siapa pun dia. Kalau mau duduk, duduk lihat baik-baik, jangan aneh-aneh. Siapa pun dia itu.”

Pewawancara kemudian menanyakan, “Jadi ini semata-mata hanya melanjutkan apa yang sudah dilakukan dan untuk kepentingan kepastian investasi?”

“Ya, secara profesional saya pertanggung jawabkan itu. Secara profesional, saya pertanggung jawabkan itu siapa pun dia. Mau siapa dia ngomong ke sini. Jangan asal ngomong aja. Republik ini dia pikir apa. Emang dia siapa? Ngomong yang benar gitu,” kata Luhut dengan suara tegas.

Menanggapi pernyataan Luhut tersebut, Anies mengatakan, “Insyaallah saya terus dan tetap pegang aturan-aturan yang ada.”

“Justru karena kita menggunakan aturan-aturan, maka kita mau mentertibkan. Di era Pak Harto, Kepres no.52 tahun 1995 jelas sekali pasal 4 menyatakan di situ bahwa wewenang dan tanggung jawab reklamasi Pantura di tangan gubernur. Jelas itu.”

“Lalu, ini menarik, kemudian gubernur harus membentuk badan pelaksana (pasal 8). Itu kata Kepres.”

“Kemudian sesudah ada Kepres ini, tahun 1995 pemprov DKI membuat perda. Perda no.8 tahun 1995 dan perda itu mengatakan di pasal 33: Penyelenggaraan reklamasi dilakukan oleh badan pelaksana.”

“Nah sekarang yang terjadi, jangan sampai ada sebuah pihak membangun sesuatu. Saya bangun rumah di situ, sudah saya bangun rumah, sudah bikin gedung tinggi dan besar tanpa mengikuti aturan, kemudian saya bilang tolong beri ini izin. Kenapa? Karena saya sudah membangun, saya sudah keluar banyak, saya sudah investasi, maka beri saya izin. Tidak bisa. Kalau anda melanggar, ya melanggar. Jadi ini pelanggaran,” kata Anies.

Najwa pun memastikan apakah gubernur tersebut akan mengambil jalan alternatif yang berbeda terkait reklamasi.

“Kita pakai aturan saja, siapa yang sebenarnya memiliki tanggung jawab untuk reklamasi,” ucap Anies.

Anies beranggapan yang menentukan jalan atau tidaknya adalah orang yang memiliki mandat.

Menjelang penutupan sesi tersebut, Najwa kembali menanyakan, “isu reklamasi ini isu yang sangat disorot, dan anda tetap pada posisi sejak awal. Dengan tegas akan menolak reklamasi?”

“Ya, ini tanah air kita dan diatur dengan hukum yang ada di tanah air kita,” jawab Sandiaga Uno.

Lihat selengkapnya dalam video berikut:

Amien Rais: Pak Jokowi, Jangan Malu-maluin UGM lah

Jurnalpolitik.id – Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais memuji aksi ‘Kartu Kuning’ yang dilakukan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), Zaadit Taqwa.

Mantan Ketua Umum PAN itu menilai, aksi yang ditujukan untuk Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu telah memecah kebuntuan dan ketakutan yang sudah merata menjangkit masyarakat Indonesia.

“Buat saya nilai paling tinggi dari Zaadit Taqwa ini membuat hentakan atau shocking therapy, enough is enough,” kata Amien dalam diskusi ‘Kartu Kuning’ dan Gerakan Mahasiswa Zaman Now’ yang digelar di Kantor DPP PAN, Jakarta, Rabu (7/2/2018).

Kendati demikian, Amien menyayangkan Zaadit yang hanya mengangkat isu gizi buruk di Asmat, Papua. Padahal, menurut Amien, masih ada isu yang lebih mendasar, yakni masalah ekonomi yang sekarang sudah dikuasai asing.

“Jadi saya kira bangsa ini harus berterima kasih ke Zaadit. Bahwa yang dikasih peringatan adalah dari UGM (tempat kuliah Jokowi) ya saya tetap bangga. Jangan malu-maluin UGM-lah,” ujar Amien yang juga lulusan S1 UGM seperti Jokowi.

“Saya kira kalau sudah kartu kuning, kalau di-kartu kuning lagi jadi (kartu) merah,” sindir Amien.

Baca: Amien Rais Beri ‘Kartu Merah’ untuk Jokowi

Amien Rais Beri ‘Kartu Merah’ untuk Jokowi

Jurnalpolitik.id – Politikus senior Amien Rais mendukung aksi ‘kartu kuning’ yang dilakukan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) Zaadit Taqwa.

Namun, Amien menilai kartu kuning sebenarnya tak cukup.

“Kalau saya bukan kartu kuning, saya kasih kartu merah (untuk Jokowi),” kata Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) itu usai menghadiri diskusi ‘ Kartu Kuning’ dan Gerakan Mahasiswa Zaman Now’ yang digelar di Kantor DPP PAN, Jakarta, Rabu (7/2/2018), sebagaimana dikutip dari Kompas.com.

Amien menilai kartu merah tepat diberikan ke Jokowi, apalagi menjelang pemilu presiden 2019.

Ia berharap Jokowi tak melanjutkan kepemimpinannya sampai dua periode.

“Jadi dikeluarkan dari lapangan demokrasi, dicari yang lebih unggul, lebih bagus,” kata Amien.

Amien menilai, di sisa usia pemerintahan yang tinggal satu tahun ini, Jokowi telah gagal menyejahterakan rakyat.

Ekonomi yang dibangun menurut dia hanya menguntungkan golongan kaya raya dan asing.

Ia mencontohkan proyek Meikarta dan juga reklamasi teluk Jakarta yang dalam pembangunannya menabrak sejumlah aturan.

“Itu jelas bukan untuk bangsa indonesia, dari sisi harganya, dari peruntukannya, itu jelas untuk Singapura, Shenzhen, Shanghai, Beijing, dan lain-lain. Itu jelas sekali,” kata Amien.

Baca juga:

Fadli Zon Tulis Sajak Peluit Kartu Kuning untuk Ketua BEM UI

Fahri Hamzah: Zaadit adalah Kita

KOMPAS/Ihsanuddin

Putra Amien Rais: Konflik Pribumi dan Non-pribumi Akibat Problem Ekonomi Era Jokowi

Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Hanafi Rais hadir dalam diskusi “Catatan Politik Akhir Tahun 2017 dan Proyeksi Tahun Politik tahun 2018′ yang dihelat Akar Rumput Strategic Consulting di kawasan Setiabudi, Jakarta, Jumat (29/12).

Dalam kesempatan tersebut, putra sulung dari politikus seinor Amien Rais itu mengatakan bahwa munculnya kelompok populisme Islam seperti Alumni 212 adalah akibat dari rapuhnya ekonomi di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla.

“Kita harus ingat masalah dasarnya. Kita enggak bisa lantas menyalahkan ada konflik pribumi dan nonpribumi. Masalah fundamentalnya itu problem ekonomi,” ujar Hanafi.

Ada 10 masalah ekonomi yang dihadapi bangsa saat ini, menurut Hanafi. Namun ada tiga yang paling parah, yakni sedikitnya lapangan pekerjaan, daya beli melemah, dan tingginya harga kebutuhan pokok.

Masalah-masalah tersebut, kata Hanafi, sangat terasa di masyarakat. Apalagi, menurut dia, banyak subsidi yang dicabut di masa pemerintahan Jokowi yang berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat.

Anggota Komisi I DPR RI itu berasumsi, kegelisahan yang timbul akibat buruknya ekonomi itu membuat populisme Islam muncul di masyarakat.

“Muncul karena masyarakat sudah terlalu kritis dan populisme Islam menjadi saluran,” kata Hanafi.

Menurut Hanafi, Jokowi melakukan tindakan sia-sia jika ingin menghentikan kelompok Alumni 212 dengan cara mendekati ulama di berbagai daerah. Sebab, tegas dia, masalah utamanya adalah ekonomi.

Dia menyatakan bila Jokowi tidak membenahi perekonomian, maka wajar muncul tokoh-tokoh baru yang disukai masyarakat sebagai kandidat presiden selanjutnya. Hal itu menurut Hanafi sangat lazim karena masyarakat membutuhkan sosok yang dapat menghapuskan kegelisahan akibat buruknya perekonomian.

PAN saat ini adalah mitra koalisi pemerintahan Jokowi. Hanafi mengamini itu, akan tetapi dia menyanggah kritikannya itu sebagai sinyal bahwa PAN tidak akan mendukung Jokowi pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Menurut Hanafi, PAN belum pantas menyatakan dukungan kepada salah satu calon untuk dimajukan pada pilpres mendatang. Alasannya, belum ada partai yang dinyatakan sah sebagai peserta pemilu 2019 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

“Termasuk PAN karena masih dalam tahap verifikasi faktual di KPU. Belum ada yang sah. Kalau ada partai yang dukung-dukung itu berarti ke-geer-an,” ujar Hanafi.

Baca juga:

Pilgub Jateng, Amien Rais Sarankan Sudirman Said Menginap di Kampung-kampung

Ketua Dewan Pembina Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais menyarankan bakal calon Gubernur Jawa Tengah yang diusung Partai Gerindra, Sudirman Said, untuk rajin mengunjungi kawasan pedesaan di Jawa Tengah. Hal tersebut, menurut Amien, untuk menyerap aspirasi warga di desa-desa menjelang Pilgub Jateng 2018.

“Turun langsung ke masyarakat, kalau perlu menginap di desa-desa untuk mendengar suara rakyat, hayati kehidupan mereka untuk bisa mencari solusi yang pas atas masalah yang mereka hadapi,” kata Amien Rais di Semarang, pada Jumat (15/12/2017) seperti dikutip Antara.

Baca: Gerindra Resmi Usung Sudirman Said di Pilgub Jateng 2018

Menurut Amien, Sudirman perlu merangkul sebanyak mungkin elemen masyarakat dari berbagai latar belakang budaya, agama, organisasi politik, maupun organisasi kemasyarakatan di Jawa Tengah.

“Itu penting untuk memperkuat basis dukungan massa,” ujar Amien.

Menanggapi saran tersebut, Sudirman Said mengatakan, “Ini pesan yang sangat berharga dari senior yang memiliki banyak pengalaman di politik, sebagai pendatang baru dalam kancah politik saya akan melaksanakan pesan-pesan itu.”

Amien Rais bertemu Sudirman Said di Bandara Ahmad Yani, Semarang, pada Jumat, 15 Desember 2017.

Amien bertemu Sudirman di Semarang sebelum melanjutkan perjalanan ke Purwodadi, Kabupaten Grobogan, guna menghadiri Rapat Kerja Pimpinan Wilayah PAN Jateng, 15-17 Desember 2017. Pada acara itu, Sudirman akan menyampaikan paparan visi dan misi dalam membangun Jateng di hadapan peserta dan pengurus DPP PAN. Rencananya PAN juga akan menyampaikan rekomendasi pencalonan Sudirman Said sebagai bakal Cagub Jateng.

Elektabilitas Sudirman memang masih kalah jauh dari kandidat petahana, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Meskipun Ganjar belum menerima rekomendasi dari PDIP, elektabilitasnya dinilai masih jauh melampaui kandidat lain, termasuk Sudirman.

Baca: Pilgub Jateng 2018, Sudirman Said Incar Kader NU Sebagai Pendampingnya

Hasil survei terbaru LSI Network Denny JA menyimpulkan Ganjar Pranowo masih menjadi kandidat Calon Gubernur (Cagub) paling populer di Pilgub Jateng 2018. Elektabilitas Gubernur Jateng petahana itu masih di atas 50 persen meski dia belum menerima rekomendasi dari PDIP.

Apabila Ganjar tidak maju kembali ke Pilgub Jateng 2018, survei LSI Denny Ja mencatat ada empat Cagub potensial yang sudah mulai rajin bergerilya. Mereka adalah Ferry Juliantono (Gerindra), Budi Waseso (Buwas) yang belakangan diisukan akan diusung PDIP, Sudirman Said (Gerindra) dan Marwan Jafar (PKB).

Amien Rais dan Sudirman Said di ruang VIP Bandara Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, Jumat, 15 Desember 2017. (Foto: Angling AP/detikcom)

“Namun, dari data hasil survei terbaru LSI, pertarungan sengit potensial terjadi antara Buwas dan Ferry Juliantono. Dalam simulasi head to head, Buwas dipepet tipis oleh Ferry dengan selisih 1 persen saja, yakni Buwas 12 persen dan Ferry 11 persen,” kata peneliti LSI Network Denny JA, Toto Izul Fatah dalam siaran persnya, pada pekan kemarin.

Tak heran, Wakil Ketua DPP Gerindra Fadli Zon menginginkan pendamping Sudirman Said di Pilgub Jateng 2018 mempunyai latar belakang Nahdlatul Ulama (NU).

“Yang jelas mungkin harusnya yang berbeda latar belakang dengan Pak Sudirman Said, misalnya bisa dari kalangan NU,” kata Fadli di Kompleks DPR, Senayan, Jakarta Pusat, hari ini.

Basis massa NU di Jawa Tengah memang terbilang besar. PKB juga sudah kerap mewacanakan untuk memasangkan Sudirman dengan kadernya, Marwan Jafar.

Meski begitu, Fadli menyatakan perihal pendamping Sudirman Said juga tergantung dengan siapa partai yang akan berkoalisi dengan Gerindra. “Tergantung hasil pembicaraan dengan mitra koalisi kita nanti,” kata Fadli.

Gerindra pun menurut Fadli menyerahkan nama pendamping kepada Sudirman Said untuk memilih sosok yang tepat. “Tapi kriteria komplementer. Jangan yang latar belakang kiranya sama gitu,” kata dia.

Amien Rais: Mas Jokowi Jangan Asyik Memecah Belah Umat Islam

“Saya ingatkan mas jokowi jangan asyik memecah belah umat Islam.”

Ucapan tersebut dilontarkan Amien Rais dalam sambutannya pada acara Kongres Alumni 212 di Wisma Persatuan Haji Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (30/11) malam.

Mantan Ketua MPR RI itu menilai pemerintah saat ini ini suka memecah belah bangsa sendiri.

Dalam kesempatan itu, Amien juga meminta Presiden dan Kapolri untuk tak perlu khawatir mengenai acara Reuni 212 yang digelar pada Sabtu besok.

Di acara tersebut, kata Amien, pihaknya hanya menyampaikan hasil kongres yang dilakukan pada Kamis—Jumat ini.

Menurut Amien, saat ini perjuangan menghadapi lawan Islam relatif agak berat. Hal itu, kata dia, karena adanya kemunculan dajal bidang ekonomi dan militer.

Selain masalah umat Islam, pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) itu juga bicara soal Papua dan isu soal referendum yang akan dituangkan dalam resolusi atau petisi dan maklumat kepada pemerintah.

“Kita tahu sekarang kaum intelektual Papua sedang melakukan diplomasi ke seluruh dunia untuk melakukan referendum. Kalau kita tahu mau direferendum, ini bahaya,” kata Amien.

Tak hanya menyinggung soal Papua, Amien pun menyindir kebijakan Presiden Jokowi yang menurutnya condong ke China dan akan menjual beberapa aset bangsa ke pihak asing.

“Hei pak presiden jangan jualan murah negeri kita ke Beijing, jangan jual aset BUMN kita keluar negeri, jangan pecah belah umat Islam, jangan pecah belah PPP. Karena saya lihat rezim ini gemar sekali memecah belah bangsa sendiri,” pungkas Amien.

Mantan Ketua Umum Muhammadiyah ini menegaskan akan ada banyak umat dan tokoh yang ikut berkumpul di acara reuni 212 pada 2 Desember 2017 mendatang. Bahkan menurut Amien jumlahnya sampai jutaan jemaah.

Diketahui, kongres yang dihadiri ratusan peserta alumni aksi 212 ini berlangsung di Aula Wisma Persatuan Haji Indonesia (PHI) Cempaka Putih, Jakarta Pusat sejak Kamis (30/11). Mereka menghadiri Kongres Nasional Alumni 212 akbar yang mengambil tema ‘Pererat Uhkuwah Menuju Kebangkitan Islam Indonesia’.

Soal Duet JR Saragih-Mumtaz, Lain Demokrat Lain Amien Rais

Isu duet putra Amien Rais, Ahmad Mumtaz Rais, dengan Bupati Simalungun Jopinus Ramli Saragih dalam Pemilihan Gubernur Sumatera Utara 2108 sempat beredar luas.

Isu tersebut ramai diperbincangkan lantaran Amien terkenal keras melarang calon pemimpin non-Muslim.

Hingga kemudian, pada Senin (13/11/2017), mantan Ketua MPR RI periode 1999 – 2004 itu angkat bicara, yang isinya bantahan terkait rumor tersebut.

Klarifikasi Amien diunggah Ketua Majelis Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) lewat akun Twitter resmi mereka, @Official_PAN.

“Saya sebagai bapaknya mengatakan, sama sekali tidak betul,” kata Amien.

“Mana mungkin Mumtaz orang Yogyakarta, besar di Yogyakarta, tiba-tiba mau jadi cawagub, wakil gubernur di Sumatera Utara. Ini adalah kegendengan!” ujar Amien.

Amien pun sempat menyebut pembuat isu duet JR Saragih-Mumtaz Rais sebagai sosok gendeng alias edan.

“Yang buat saya kira gendeng, yang buat saya kira memang perlu dioperasi, apa? Pikiran akal sehatnya itu. Jadi saya sebagai bapaknya mengatakan sama sekali tidak betul,” tegas Amien.

“Dan saya tanyakan pada Mumtaz, dia mencak-mencak. (Dia bilang ke saya) ‘Sejak kapan, Pak? Kalau saya jadi wakil gubernur di Jawa Tengah mungkin masuk akal,’” imbuh Amien.

Poster digital berisi duet JR Sragih-Mumtaz Rais untuk Pilgub Sumut 2018

Demokrat berkata lain

Namun berbeda dengan keterangan dari pihak Partai Demokrat.

Direktur Eksekutif Partai Demokrat Sumut Silverius Bangun mengaku sudah mempersiapkan Mumtaz Rais sebagai cawagub untuk mendampingi JR Saragih.

“Mereka berpasangan. Kami sedang mempersiapkan semuanya. Saat ini tinggal menunggu surat rekomendasi kedua partai. Koalisi keduanya sudah dipertimbangkan matang. Demokrat menilai, JR-Mumtaz adalah pilihan terbaik,” ujar Silverius kepada Kompas.com, Selasa (14/11/2017).

Hingga saat ini partai koalisi pendukung Saragih-Mumtaz hanya terdiri dari PAN dan Partai Demokrat. Namun tidak menutup gabungnya partai lain.

“Saat ini masih dua partai itu saja. Tapi, kami terbuka kalau ada partai lain yang melihat pasangan kami. Kami terbuka dalam koalisi,” ujarnya.

Bakal Calon Gubernur Sumut JR Saragih bersama pengurus DPP Demokrat.

Riuh pemberitaan soal duet JR Saragih-Mumtaz berawal dari beredarnya poster digital yang menampakkan pasangan Mumtaz Rais dan JR Saragih di Pilgub Sumatera Utara 2018.

Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan, pun mengaku geram dengan beredarnya kabar tersebut.

“Aduh saya minta ampun, hoax kok jadi berita itu loh. Ya kalau ada orang surat dukungan, itu bolehlah dikomentarin, tapi ini hoax lalu dipakai nyerang orang itu kan keterlaluan, edan toh. Udah itu aja komentar saya,” katanya ditemui wartawan di Komplek Parlemen, Senayan, Senin (13/11/2017).

Pimpin Orasi di Lokasi Sidang Buni Yani, Amien Rais: Kalau Datang Kebenaran, Kebatilan akan Sirna

Dewan Pembina Presidium Alumni 212 Amien Rais hadir di persidangan terdakwa Buni Yani yang mengagendakan pembacaan vonis di Gedung Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Bandung, Selasa (14/11/2017).

Amien tiba sekitar pukul 10.45 WIB, langsung disambut massa simpatisan Buni Yani yang berdemo di depan lokasi sidang.

Sebelum masuk ruang sidang, Amien sempat berorasi di hadapan massa.

Dalam orasinya, Mantan Ketua MPR RI itu mengajak seluruh elemen bangsa untuk membela Buni Yani.

“Kami mengajak anak-anak bangsa membela Buni Yani yang menurut kita mendapat kriminalisasi,” kata Amien dalam orasinya di atas mobil komando.

Dia berharap, majelis hakim yang diketuai oleh M Saptono bisa memberikan keputusan yang adil dengan harapan Buni Yani dibebaskan secara hukum, tidak seperti tuntutan jaksa yang dinilainya tak masuk akal.

“Mudah-mudahan hakim ketok palu memberikan keadilan, syukur-syukur dibebaskan. Kalau tidak, ada usaha banding. Kita percaya kalau datang kebenaran, kebatilan akan sirna,” tuturnya.

Amien Rais hadir di ruang sidang Buni Yani, Selasa (14/11/2017).

Ketua Majelis Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) ini lalu mengajak massa untuk berdoa bersama agar apa yang diharapkan massa dapat terkabul dan Buni Yani dapat segera bebas dari tuntutan hukum yang menjeratnya.

Selain itu, dia juga meminta agar umat terus berusaha menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

“Kita berdoa kepada Allah, mudah-mudahan usaha kita yang demokratis yang fungsional membela Buni Yani, kita juga bertanggung jawab menjaga negeri kita semua, persatuan kita, terutama umat Islam jangan terpecah belah,” ucapnya.

Amien juga mengaku akan mendorong kembali menempuh jalur hukum apabila hakim menjatuhkan vonis yang dinilainya tidak adil kepada Buni Yani.

‎”Putusannya yang sejuk-sejuk saja. Andaikan enteng kita terima. Kalau berat, kita upayakan upaya hukum sekuat-kuatnya,” ujarnya.

Amien masuk ruang sidang sekitar pukul 11.00 WIB. Dia hadir dengan mengenakan pakaian putih dan peci hitam. Beberapa orang berseragam ormas tampak mengawal kedatangannya.

Amien hadir saat sidang sedang berlangsung. Kehadirannya sontak membuat suasana ruang sidang menjadi sedikit gaduh.

Amien Rais pun menjadi pusat perhatian, beberapa pengunjung dan jurnalis langsung mengambil foto Amien Rais.

Beberapa pengunjung sidang kemudian mengisyaratkan pengunjung sidang lain untuk tetap tenang.

Setibanya di ruang sidang, Amien Rais langsung mengambil posisi duduk di barisan kedua terdepan. Selain Amien Rais, hadir pula Novel Bamukmin yang sempat menjadi saksi pada sidang Buni Yani.

Amien Rais: Yang Bikin Hoax Duet JR Saragih-Mumtaz Rais Perlu Dioperasi Kepalanya

Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais menanggapi isu mengenai putranya, Mumtaz Rais, maju sebagai calon Wakil Gubernur Sumatera Utara mendampingi Jopinus Ramli Saragih.

Amien menyebut kabar tersebut tak masuk akal.

“Mana mungkin Mumtaz orang Yogyakarta, besar di Yogyakarta, tiba-tiba mau jadi cawagub, wakil gubernur di Sumatera Utara. Ini adalah kegendengan!” ujar Amien dalam video yang diunggah DPP PAN melalui akun Twitter mereka, @Official_PAN, Senin (13/11/2017).

Amien menyebut pembuat isu duet JR Saragih-Mumtaz Rais sebagai sosok gendeng alias edan. Amien menyarankan isi kepala pembuat isu itu dioperasi.

“Yang buat saya kira gendeng, yang buat saya kira memang perlu dioperasi, apa? Pikiran akal sehatnya itu. Jadi saya sebagai bapaknya mengatakan sama sekali tidak betul,” tegas Amien.

Amien sendiri mengaku telah berbicara dengan putranya soal isu tersebut. Mumtaz, kata Amien, berang akan kabar tersebut.

“Dan saya tanyakan pada Mumtaz, dia mencak-mencak. (Dia bilang ke saya) ‘Sejak kapan, Pak? Kalau saya jadi wakil gubernur di Jawa Tengah mungkin masuk akal,'” sebut Amien.

Lagi pula, kata Amien, anaknya tak mengerti soal Sumatera Utara. Jadi, kata Amien, para pembuat isu tersebut hanyalah melontarkan gombalan belaka.

“Jadi Sumatera Utara, tahu apa dia tentang Sumatera Utara. Jadi menyalahi prinsip Bhinneka Tunggal Ika. Yang mengatakan ini betul-betul tidak paham NKRI, mereka adalah gombal saja,” pungkas Amien.

Di akun Twitter @dedenfirman, yang di-retweet @BeritaPAN, masih lewat video, Amien meminta penyebar isu tersebut bertobat. Dia menyebut cebong-cebong, tanpa menjelaskan maksudnya.

“Itu cebong-cebong yang tidak ada bertanggung jawab. Selamat jalan cebong, silakan pergi ke laut, insyaallah kami tetap punya akal sehat, akidah kuat, dan tidak mudah diguncang dengan berita hoax yang tidak bermutu,” ujar Amien.

Simak dalam video berikut:

Amien Rais Tepis Kabar Duet JR Saragih-Mumtaz Rais

Amien menyebut si penyebar isu duet JR Saragih-Mumtaz Rais sebagai orang 'gendeng' yang perlu dioperasi kepalanya. "Itu cebong-cebong yang tidak ada bertanggung jawab. Selamat jalan cebong, silakan pergi ke laut," kata Amien. 😀 . Baca selengkapnya: http://jurnalpolitik.id/?p=11862

Posted by Jurnal Indonesia on Monday, 13 November 2017

Ingin Ketemu Jokowi, Amien Rais: Saya Kangen Sekali

Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais, mengaku ingin bertemu Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dia juga mengaku kangen pada Jokowi.

“Pak Jokowi, di tengah kesibukan Anda sebagai presiden yang suka blusukan itu, kami nggak usah diblusuki, kami blusuk ke sana (istana),” ujar Amien dalam diskusi menolak reklamasi di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (2/11/2017).

“Mudah-mudahan minggu-minggu ini Pak Jokowi buka pintunya. Saya sudah kangen sekali. Kecuali pas 212 (demo bela Islam 2 Desember 2016), beliau naik podium. (Jokowi sapa saya) ‘Oi Pak Amien’, gitu aja,” imbuh dia.

Keinginannya bertemu dengan Jokowi tidak lain untuk membahas soal reklamasi teluk Jakarta. Amien Rais mesih secara tegas menolak kelanjutan proyek tersebut.

“Saya minta ke IRESS (Indonesian Resources Studies), membuat tim ketemu Jokowi. Tim ini harus ada Prof Muslim Muin (pakar teknik kelautan ITB). Kalau beliau nggak ada, saya juga nggak berani ya. Boleh ditambah teman-teman lain,”

Amien mengatakan, dia akan menemui Jokowi dengan cara yang sopan dan santun. Amien juga ingin beberapa pihak yang sewenang-wenang dalam proyek reklamasi dibawa ke pengadilan.

“Masukan kami ke Jokowi kami ketik rapi, bahasanya santun, argumentatif, hentikan reklamasi. Saya punya usul, setelah (reklamasi) dihentikan, yang abuse of power dibawa ke pengadilan. Kami ketemu Pak Joko, Joko, Wi,” jelasnya.