Hukum

Nama Fadli Zon dan Dahnil Anzar Terseret dalam Sidang Hoaks Ratna Sarumpaet

Terdakwa kasus dugaan penyebaran berita bohong atau hoaks Ratna Sarumpaet mengikuti sidang perdana di PN Jakarta Selatan, Jakarta, Kamis (28/2/2019). Sidang perdana tersebut beragendakan pembacaan dakwaan dari Jaksa penuntut umum. ANTARA FOTO/Reno Esnir/aww.

Nama Fadli Zon dan Dahnil Anzar Simanjuntak terseret dalam sidang lanjutan terdakwa hoax penganiayaan, Ratna Sarumpaet. Nama keduanya disebut saat hakim bertanya ke saksi mengenai awal mula mengetahui munculnya kabar penganiayaan Ratna Sarumpaet.

Saksi dari penyidik Polda Metro Jaya, Niko Purba mengaku mengetahui berseliwerannya foto wajah Ratna Sarumpaet yang tampak seperti lebam dan bengkak. Niko juga mengaku membaca berita media online.

Jawa Pos seingat saya, statement-nya Dahnil  Anzar membenarkan Ibu Ratna sebagai korban penganiayaan. Kalau Tribunenews adanya statement Fadli Zon yang membenarkan juga Ibu Ratna sebagai korban kekerasan,” kata Riko di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (Jaksel), Jl Ampera Raya, Selasa (26/3/2019).
“Jadi di pemberitaan itu, Pak Fadli Zon dan Pak Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan bahwa Ibu Ratna Sarumpaet dianiaya sekelompok orang saat berada di Bandung, ada statement Bu Ratna juga sudah bertemu Pak Prabowo (melapor hal itu),” sambungnya.
Kemudian, kata Niko, kepolisian menelusuri terkait kabar penganiayaan yang menimpa Ratna. Setelah itu, ia berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk mencari kebenaran informasi, terkait kejadian penganiayaan yang disebut terjadi di kawasan Bandara Husein Sastra Negara, Bandung, Jawa Barat.
Namun, setelah ditelusur ke lokasi, informasi itu nihil. Maka itu, timnya berinisiatif menyisir ke Rumah Sakit mana pun di Jawa Barat, namun tidak kunjung mendapatkan laporan kabar pengeroyokan aktivis Ratna.
Niko melanjutkan, ternyata usai diselidiki, kabar penganiayaan itu bohong. Dari foto lebam Ratna yang viral, kata dia, terlihat bahwa Ratna tengah difoto di Rumah Sakit Kecantikan Bina Estetika Menteng, Jakarta Pusat.
“Jadi awalnya penganiayaan namun fakta yang kami peroleh adalah informasi. Jadi kami laporkan pemberitaan bohong,” jelasnya.
Setelah diselidiki lebih lanjut, ia memeriksa rumah sakit di Jakarta. Terbukti, timnya mendapatkan sejumlah fakta dari rekaman CCTV saat Ratna selesai operasi plastik.
Selain itu, polisi mendapati sejumlah bukti bahwa Ratna berada di rumah sakit itu pada tanggal yang diklaim Ratna terjadi penganiayaan. Bukti-bukti itu makin meyakinkan polisi bahwa Ratna tidak mengalami penganiayaan.
“Bukti yang diperoleh (dari rumah sakit), Ratna menjalani rawat inap dan operasi pada tanggal 21 sampai 24 September (2018),” ujar Niko.

Ads

“Dari keterangan saat interogasi, saya melihat dokumen jadwal operasi, dokumen kuitansi, dan setruk debit,” imbuh Niko.

Dalam agenda sidang kelima ini Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadiri enam orang saksi. Tiga orang saksi dari pihak kepolisian yaitu Niko Purba, Mada Dimas, dan Arief Rahman. Kemudian tiga orang saksi lainnya, dokter dari RSK Bedah Bina Estetika dr. Sidik Setiamihardja, drg. Desak Asita Kencana, dan Kepala Perawat Aloysius Sihombing.
Dalam kasus ini, JPU mendakwa Ratna dengan Pasal 14 ayat 1 UU Peraturan Hukum Pidana karena dianggap telah menyebarkan berita bohong untuk membuat keonaran.

Dakwaan kedua yakni pasal 28 ayat 2 juncto pasal 45A ayat 2 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

JPU menilai Ratna Sarumpaet telah menyebarkan informasi untuk menimbulkan kebencian atas dasar SARA.
Sebelumnya, Ratna mengaku dianiaya oleh sejumlah orang tidak dikenal di bagian muka hingga lebam. Belakangan terungkap hal yang dilakukan Ratna merupakan dusta belaka.

Loading...