Dahlan Iskan: Jokowi Mungkin Percaya dengan Omongan ‘Disandingkan Sandal Jepit pun akan Menang’

Presiden Joko Widodo (kiri) bersama Dahlan Iskan. (Foto: istimewa)

Jurnalpolitik.id – Mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan, menilai keputusan calon presiden (capres) Prabowo Subianto dan Joko Widodo (Jokowi) cukup berani dalam memilih figur calon wakil presiden (cawapres) sebagai pendampingnya di pemilihan presiden (Pilpres) 2019 nanti.

Diketahui, Jokowi telah memilih Ketua MUI yang juga merupakan Rais Aam PBNU, KH Ma’ruf sebagai cawapresnya. Sementara Prabowo telah memilih rekan separtainya di Gerindra, Sandiaga Uno, untuk mendampinginya melawan calon petahana pada Pilpres tahun depan.

Melalui tulisan yang diunggah di situs pribadinya, disway.id, pada Sabtu 11 Agustus 2018, Dahlan Iskan mencoba menafsirkan alasan di balik pemilihan masing-masing figur tersebut sebagai cawapres.

Tafsir pertama, meunurut Dahlan, kedua capres tersebut memiliki kepercayaan diri yang tinggi dengan berani tidak memilih tokoh yang memiliki rating atau elektabilitas tinggi.

Mungkin, menurut Dahlan, Jokowi mungkin percaya dengan omongan ini: ‘disandingkan dengan sandal jepit pun akan menang’.

Analisa Dahlan, cawapres yang dipilih tidak harus yang bisa menambah suara. Yang penting tidak mengurangi suara.

Hal itu, kata Dahlan, mirip dengan posisi Pak SBY pada Pilpres 2009 yang lalu. Pada saat itu SBY memilih Pak Budiono, dengan pertimbangan: tua, nurut, tidak mbantahan, tidak menjadi matahari kembar, tidak punya potensi menjadi presiden berikutnya.

Menurut Dahlan, Jokowi ingin menerapkan strategi SBY tersebut di Pilpres 2019 ini. Dengan pasangan semacam itu, Jokowi berharap bisa jadi satu-satunya ‘matahari’.

Namun kemudian Dahlan mempertanyakan: Benarkah Kyai Ma’ruf Amin tidak mengurangi suara Jokowi? Bagaimana dengan banyaknya Ahoker yang bukan Jokower?

Dahlan berpendapat, tentu mereka kecewa. Ma’ruf Amin, lanjut Dahlan, adalah tokoh yang membuat Ahok masuk penjara.
Sebaliknya, sebagai tokoh sentral 212 bisa jadi Kyai Ma’ruf menambah suara. Dari kalangan Islam. Meski sejak awal tagline 212 adalah ganti presiden.

Tinggal hitung-hitungan, tulis Dahlan. Lebih banyak Ahoker yang kecewa atau 212 yang batal ganti presiden?

Sementara di sisi lain, kata Dahlan, Prabowo juga memiliki kepercayaan diri. Ketua Umum Partai Gerindra itu memutuskan untuk tidak mengambil ulama. Namun justru mengambil anak muda, yakni Sandiaga Uno.

Prabowo pu, menurut Dahlan, tidak takut 212 lari ke sana.

Jokowi-Ma’ruf Amin berpotensi kalah jika…

Sementara itu, diberitakan Wartakota, Direktur eksekutif Indo Barometer, Khodari mengatakan, ada 2 hal yang tak boleh dilupakan kubu Jokowi-Ma’ruf Amin jika ingin pasangan ini menang di Pilpres 2019.

Khodari menilai, terpilihnya Ma’ruf Amin sebagai cawapres adalah untuk membendung isu SARA yang kerap menerpanya, dan kemungkinan akan terus menerpanya pada Pilpres nanti.

Kemudian, Khodari juga menyampaikan, Jokowi selalu harus memilih pasangan yang lebih senior untuk menghindari resistensi dari partai politik (Parpol) pendukungnya.

“Kalau ambil yang muda pasti akan terjadi resistensi dari partai politik, karena mereka melihat wakilnya Pak Jokowi akan jadi calon kuat untuk pilpres 2024 yang akan datang,” kata Khodari.

Itulah alasan kenapa Jokowi akhirnya tak memilih Mahfud MD. Karena, kata Khodari, meskipun usia Mahfud sudah 61 tahun, tapi masih mungkin maju sebagai capres pada Pilpres 2024.

Namun, Jokowi-Ma’ruf Amin tak boleh melupakan fakta bahwa NU adalah organisasi yang sangat besar. Dan di organisasi sebesar NU, sudah amat lazim terjadi perbedaan pandangan, suara dan pendapat.

Hal semacam itulah yang akan menentukan dukungan keluarga PBNU kepada Jokowi-Ma’ruf Amin.

“Memang ada yang sering menyebut di NU itu ada NU Struktural dan NU kultural. Di antara 2 kutub ini kadang-kadang tidak selalu sejalan,” ujar Khodari.

Menurut Khodari, posisi Ma’ruf Amin adalah sebagai representasi NU struktural, sebab memiliki jabatan di PBNU. Sehingga secara struktural Ma’ruf Amin pasti didukung.

“Tetapi jangan sampai menganggap enteng. Karena apa, pelajaran dari pengalaman Pilkada Jawa Timur. Itu menunjukkan figur yang didukung NU Struktural (Syaifullah Yusuf), justru kalah melawan yang tidak didukung NU struktural.”

“Belum lagi pelajaran pada tahun 2004, ada wakil presiden namanya Hasyim Muzadi, juga mengalami kekalahan,” kata Khodari.

“Makanya, pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin amat punya peluang kalah karena ada 2 kutub di tubuh PBNU,” kata Khodari.

“Makanya tugas Jokowi dan Ma’ruf Amin saat ini adalah menyatukan 2 kutub NU itu di Pilpres 2019 mendatang,” tandasnya.

Loading...