Jokowi atau Prabowo, Yusril Tunggu Keputusan Ijtima Ulama II

Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra. (Foto: istimewa)

Jurnalpolitik.id – Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB), Yusril Izha Mahendra, menegaskan bahwa untuk sementara pihaknya memilih netral. Dia belum memutuskan mendukung kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden dalam Pilpres 2019, Joko Widodo-Maruf Amin maupun Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Yusril membantah tudingan yang menyebut bahwa partainya itu tidak mendukung Ijtima Ulama. Malah, kata Yusril, sikapnya tersebut sejalan kebijakan para ulama.

“Lha, kami ini Partai Islam. Kalau tidak manut sama ulama, manut sama siapa lagi? Masa kami manut sama orang yang teriak-teriak di medsos,” katanya dalam keterangan tertulisnya, Minggu (12/8).

Diketahui, beberapa minggu lalu, sejumlah tokoh menggelar forum yang mereka sebut dengan Ijtima Ulam di Hotel Peninsula, Jakarta. Forum tersebut menghasilkan keputusan untuk mendukung Prabowo sebagai Capres dan salah satu dari dua ulama, yakni Ustaz Abdul Somad dan Habib Salim Segaf Aljufri sebagai Cawapres.

Namun, keputusan partai-partai koalisi pendukung Prabowo, yaitu Gerindra, PKS dan PAN, justru tak menjadikan rekomendasi Ijtima Ulama untuk mengambil keputusan. Prabowo lebih memilih nama lain, yakni Wakil Gubernur DKI Jakarta yang juga menjabat Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Sandiaga Uno, sebagai cawapresnya.

“Karena yang dipilih bukan ulama, ya PBB nunggu dulu, menunggu bagaimana petunjuk ulama yang berijtima. Kan mereka yang memutuskan” ucap Yusril.

Baca: Curhat Yusril yang Merasa Partainya Tak Diperhitungkan Kubu Jokowi atau Prabowo

Pada Sabtu (11/8/2018) kemarin, Pimpinan Front Pembela Islan (FPI), Muhammad Rizieq Shihab, meminta diadakan Ijtima Ulama Jilid II untuk memutuskan apakah para ulama dapat menerima keputusan bahwa Cawapres bukan ulama sesuai hasil Ijtima, melainkan seorang pengusaha.

Di sisi lain, menurut dia, Jokowi yang tidak dikomando ulama manapun, malah memilih seorang ulama, KH Ma’ruf Amin yang merupakn Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Rais Am PBNU.

Selama belum ada keputusan Ijtima Ulama Jilid II, PBB mengaku akan terus berada di tengah. Menurut Yusril Ijtima Ulama Jilid II memang dilematis. Kalau ada ijtihad baru yang membatalkan keputusan semula, para ulama harus nenunjukkan dengan jelas rujukan nash syar’i yang menjadi dasar keputusannya.

“Salah-salah mengambil keputusan bisa menyebabkan merosotnya wibawa ulama di mata umat,” tuturnya.

Baca: Ma’ruf Amin: Ada yang Ngomongnya Menghargai Ulama Tapi Usul Ijtima Tak Didengar

Yusril pun mengaku, saat sedang menunggu hasil Ijtimak Ulama Jilid II ini, pihaknya banyak mendapat ‘gempuran’ lantaran masih netral dan tidak segera mendukung Prabowo-Sandi.

“Malah ada yang menuduh saya mengkhianati komando para ulama. Lha, yang berkhianat tidak memilih pendamping Prabowo adalah seorang ulama, siapa? Memang saya?” tanya Yusril.

Selama ini, Yusril mengaku tidak ikut-ikutan dan sama sekali tidak pernah diajak bicara oleh partai-partai koalisi pendukung Prabowo Subianto. Sementara pada kubu Jokowi, yang tidak dikomando ulama mana pun, malah memilih seorang ulama, yakni Kiai Ma’ruf.

“Ijtima Ulama Jilid I memutuskan mendukung Prabowo sebagai Presiden dan salah satu dari dua ulama sebagai wakilnya. Tetapi keputusan itu tidak ditaati. Sementara Jokowi yang tidak disuruh oleh ulama manapun, malah memilih ulama menjadi cawapresnya. Saya berharap Ijtima Ulama Jilid II dapat menjernihkan dan menjawab pertanyaan ini,” kata Yusril.

Untuk informasi, Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) sebagai penyelenggara forum Ijtima Ulama, belum menentukan sikap soal terpilihnya Sandiaga Uno sebagai Cawapres Prabowo Subianto. GPNF menyatakan akan menggelar Ijtima Ulama Jilid II sebelum perayaan Idul Adha, 22 Agustus 2018 mendatang.

Baca: Rizieq Shihab Umumkan Akan Ada Ijtima Ulama II Pilih Prabowo atau Jokowi

Loading...