Pemilu, Pilpres 2019

Lewat Surat Terbuka, Elite PKS Ini Tagih Janji Anies Terkait Kepemimpinan di DKI

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan

Jurnalpolitik.id – Politikus PKS Mahfudz Siddiq menuliskan surat terbuka yang ditujukan untuk Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Melalui surat tersebut, Mantan wakil sekretaris jenderal PKS itu mengingatkan Anies untuk konsisten pada sumpah jabatan sebagai gubernur DKI.

Dia mengaku mengungkapkan kegelisahannya jika Anies meninggalkan Jakarta untuk maju Pilpres 2019.

Mahfuz membuka suratnya dengan kalimat basmalah yang dilanjutkan dengan kutipan dari sumpah yang diucapkan Anies saat dilantik sebagai gubernur DKI pada 16 Oktober 2017 lalu.

“Demi Allah saya bersumpah, akan memenuhi kewajiban saya sebagai gubernur dan wakil gubernur dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya,” tulis Mahfuz mengawali suratnya, Rabu (11/7/2018).

Baca: Gerindra Wajib Ambil Cawapres dari PKS, Tifatul: Tak Bisa Ditawar Lagi

Legislator PKS yang akrab disapa Ustaz Mahfuz itu pun kemudian menyinggung soal pemberitaan yang beredar akhir-akhir ini mengenai Anies.

“Berita-berita itu — yang mulai ‘memaksa’ Bapak ikut berkomentar — juga menyisipkan rasa gelisah dan cemas dalam diri saya,” tutur Mahfudz.

Kecemasan Mahfuz didasari atas berita-berita yang menyebutkan bahwa Anies akan maju pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

“Kenapa terselip rasa gelisah dan cemas dalam diri saya? Karena setelah mengikuti hiruk-pikuk berita di media, muncul pertanyaan di kepala saya: “Akankah saya kehilangan sosok Anies Rasyid Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta yang telah saya pilih bersama tiga jutaan warga lainnya?” Jika pemimpin itu diposisikan sebagai imam bagi ummat, “Apakah sang Imam akan meninggalkan ummatnya di fase awal perjalanan perjuangan ini?” tulis Mahfudz.

Baca juga: Anies Disebut Pernah Temui Prabowo Minta Restu Maju Pilpres

mahfudz siddiq

mahfudz siddiq

Anggota Komisi VII DPR itu mengatakan, Anies baru memimpin Jakarta selama 7 bulan. Masa 7 bulan ini, menurut Mahfudz, baru fase perkenalan dan mendalami seluk-beluk Ibu Kota.

“Dalam rentang masa tugas 5 tahun (2017-2022), perjalanan 7 bulan pertama, saya yakini sebagai fase ‘Ta’aruf‘. Yaitu fase Bapak mengenali apa dan bagaimana Jakarta ini. Mungkin baru mulai tahun kedua dan seterusnya, Bapak bisa benar-benar menjalankan program pembangunan secara tepat dan cepat,” ujarnya.

Sebagai warga DKI Jakarta, Mahfudz tak lupa menyematkan doa agar Anies amanah dan tuntas dalam memimpin kota tempat tinggalnya itu. Dia juga mendoakan agar Anies selalu istiqamah dan sabar dalam menjalankan tugasnya.

“Hari-hari ini, saya hanya bisa memanjangkan doa kepada Allah SWT agar Bapak Gubernur bersama Wakil Gubernur bisa terus mengemban amanah dan tugasnya hingga tuntas. Sehingga tuntas pula pertanggungjawaban amal di hadapan masyarakat Jakarta dan di hadapan Sang Pemilik dan Pemberi Kekuasaan, Allah Azza wa Jalla. Berjalan dalam istiqamah dan sabar,” ucapnya.

Berikut surat terbuka Mahfudz Sidik untuk Anies Baswedan selengkapnya;

Surat Terbuka untuk Anies Baswedan Gubernur DKI Jakarta

Bismillahirrohmanirrohim

“Demi Allah saya bersumpah, akan memenuhi kewajiban saya sebagai Gubernur
dan Wakil Gubernur dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya”, janji Anies dan
Sandi ketika disumpah.

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarakatuh.

Yth Bapak Anies Rasyid Baswedan, Gubernur DKI Jakarta.

Dengan rendah hati, saya ingin memperkenalkan diri sebagai salah seorang warga Bapak yang berdomisili di Jakarta Selatan. Nama saya Mahfuz Sidik bin Ahmad Suryani, lahir di Jakarta 52 tahun lalu, dari pasangan ayah-ibu yang asli Jakarta.

Saya ingin mengawali dengan doa keberkahan agar Bapak selalu diberi kekuatan, bimbingan dan pertolongan dari Allah SWT agar mampu melaksanakan tugas dan amanah sebagai Gubernur DKI Jakarta – pemimpin kami – dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya.

Bapak Gubernur Yth.

Dua bulan terakhir ini, saya kerap membaca dan menonton berita tentang sejumlah politisi dan pimpinan partai yang mendorong-dorong Bapak sebagai calon wakil presiden, dan bahkan sebagai calon presiden. Sebagai pribadi yang menilai Bapak sebagai sosok orang baik, tentu ikut bangga dan gembira.

Namun berita-berita itu — yang mulai “memaksa” Bapak ikut berkomentar — juga menyisipkan rasa gelisah dan cemas dalam diri saya. Sebagai warga asli Jakarta, saya mengalami kepemimpinan 11 Gubernur dan Plt Gubernur DKI Jakarta sejak tahun 1966. Dimulai era Ali Sadikin, Tjokropranolo, Soeprapto, Wiyogo Atmodarminto, Soerjadi Soedirdja, Sutiyoso, Fauzi Bowo, Joko Widodo, Basuki CP, Djarot SH sampai Gubernur Anies Rasyid Baswedan.

Baca: Anies Dinilai Layak Maju Pilpres Karena Sudah Tunaikan Semua Janji di DKI, Beda dengan Jokowi

Front Aksi Mahasiswa Jakarta Raya (FAM Jaya) menggelar aksi unjuk rasa di depan Balaikota Jakarta, Senin (16/4/2018). Mereka menagih janji Gubernur DKI Anies Baswedan saat kampanye lalu. (Foto: JPNN/Ricardo)

Seingat dan sepengetahuan saya, proses pemilihan Gubernur pada tahun 2017-lah yang paling heboh, panas, dan menguras energi masyarakat Indonesia. Belum pernah saya menyaksikan begitu banyak doa dilantunkan di rumah, musala, masjid dan majlis taklim untuk terpilihnya Anies-Sandi sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022.

Bahkan saya menyaksikan bagaimana pada hari Rabu subuh, tanggal 19 April 2017, begitu banyak warga Jakarta yang menghadiri sholat subuh berjemaah di masjid dan musala. Mereka bermunajat untuk kemenangan Bapak, sebelum menuju TPS memastikan hak pilihnya.

Akhirnya, alhamdulillah, Allah memberikan kemenangan kepada Anies-Sandi pada putaran kedua dengan dukungan 3,24 juta suara atau 57,96 persen (www.wikipedia.org). Kalimat pertama yang saya dengar dari banyak warga adalah: “Alhamdulillah, Allahu Akbar!”

Lalu dengan rasa haru dan bangga, saya dan banyak pemilih Bapak menjadi saksi atas kalimat sumpah pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022 di Istana Negara yang megah.

Bapak Gubernur Yth.

Kenapa terselip rasa gelisah dan cemas dalam diri saya? Karena setelah mengikuti hiruk pikuk berita di media, muncul pertanyaan di kepala saya: “Akankah saya kehilangan sosok Anies Rasyid Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta yang telah saya pilih berama tiga jutaan warga lainnya? Jika pemimpin itu diposisikan sebagai imam bagi ummat, apakah sang Imam akan meninggalkan ummatnya di fase awal perjalanan perjuangan ini?”

Bapak Anies Rasyid Baswedan Yth.

Sebagai orang asli betawi dan warga kota Jakarta, saya bangga dengan ibu kota negara ini yang menyandang sebagai daerah khusus. Kebetulan — atas izin Allah — saya ikut menyusun UU Nomor 29 Tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Ibu Kota Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dan saya juga bangga dengan sosok Gubernur DKI Jakarta. Kenapa? Karena luas wilayah Jakarta yang 661,5 km2, melampaui luas 18 negara di dunia. Jumlah penduduk Jakarta yang 10,4 juta (2017) melampaui jumlah penduduk 109 negara di dunia.

Dari 34 provinsi dan 93 kota di Indonesia, Jakarta memiliki APBD terbesar yang mencapai Rp 70,2 triliun dengan PAD yang juga terbesar, yaitu Rp 41,7 triliun (2017). Jadi dengan fakta itu, saya memahami dan memposisikan Gubernur DKI dengan kedudukan yang sangat besar dan tinggi.

Setidaknya setara dengan 18 kepala negara lain (dari sisi luas wilayah), dan setara dengan 109 kepala negara lain (dari sisi jumlah penduduk). Dan pastinya sebagai Gubernur paling bergengsi di Indonesia, sebagaimana dimandatkan dalam UU No 29/2007.

Selama 52 tahun menjalani usia hidup di Jakarta, saya – sebagaimana jutaan warga bapak yang lainnya – punya harapan agar Ibukota Negara ini semakin maju dan beradab. Setidaknya 5 masalah utama yang sering dikeluhkan warga bisa diselesaikan dengan baik dan tuntas, yaitu kemacetan, banjir, sampah, korupsi dan pengangguran.

Saya dan warga Jakarta lainnya juga siap mendukung dan berkontribusi agar 23 janji kampanye Anies-Sandi bisa dilaksanakan dan dibuktikan keberhasilannya.

Bapak Gubernur Yth.

Surat terbuka ini saya tulis pada hari Rabu, 11 Juli 2018. Artinya menjelang 7 bulan usia kepemimpinan Bapak sebagai Gubernur. Dalam rentang masa tugas 5 tahun (2017-2022), perjalanan 7 bulan pertama, saya yakini sebagai fase “Ta’aruf”. Yaitu fase Bapak mengenali apa dan bagaimana Jakarta ini.

Mungkin baru mulai tahun kedua dan seterusnya, Bapak bisa benar-benar menjalankan program pembangunan secara tepat dan cepat. Ingatan kami masih melekat akan peristiwa sepanjang Pilkada Jakarta pada 15 Februari dan 19 April 2017 dengan semua rangkaian peristiwa yang mengiringinya.

Hari-hari ini, saya hanya bisa memanjangkan doa kepada Allah SWT agar Bapak Gubernur bersama Wakil Gubernur bisa terus mengemban amanah dan tugasnya hingga tuntas. Sehingga tuntas pula pertanggungjawaban amal di hadapan masyarakat Jakarta dan di hadapan Sang Pemilik dan Pemberi Kekuasaan, Allah Azza wa Jalla. Berjalan dalam istikamah dan sabar.

Saya ingin menutup surat terbuka ini dengan cerita kecil. Saat saya ikut berikhtiar memenangkan Anies-Sandi, Ibu saya memberi pesan untuk memperbanyak membaca surah Al-Insyirah. Agar Allah selalu memberi kemudahan atas berbagai kesulitan.

Salah satu bagian ayat dari surah itu berbunyi: fa idzaa faraghta fanshob, wa ilaa rabbika farghob (maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), teruslah bekerja keras (untuk urusan yang lain). Dan hanya kepada Tuhanmu lah engkau berharap). (QS Al-Insyirah ayat 7-8).

Taqabbalallahu minnaa wa minkum, minal aidin wal-faizin. Mohon dibukakan pintu maaf lahir dan batin. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam hormat,

ttd

Mahfuz Sidik

Warga DKI Jakarta

Loading...

Berita lainnya