Pemilu, Pilpres 2019

Gerindra Tuding PKS Mau Koalisi Lantaran Tak Bisa Usung Calon Selain Prabowo

Ketum Gerindra Prabowo Subianto, Presiden PKS Sohibul Iman dan elite dua partai lakukan sepeda santai
Ketum Gerindra Prabowo Subianto, Presiden PKS Sohibul Iman dan elite dua partai lakukan sepeda santai, Sabtu (21/4/2018). (Foto: Gunawan Wibisono/JawaPos.com)

Jurnalpolitik.id – Ketua DPP Gerindra Desmond J Mahesa mengaku heran mengenai keharusan Prabowo Subianto mengambil cawapres dari kader PKS jika ingin tetap berkoalisi pada Pilpres 2019 nanti. Desmond menduga, jika PKS punya kesempatan mengusung selain Prabowo, partai pimpinan Sohibul Iman itu sudah lama berpisah dengan Gerindra.

“Demi kepentingan rakyat apa demi kepentingan partai? Kan gitu. Mungkin kalau ada calon yang bisa mereka (PKS) usung selain Prabowo, udah lama pindah tuh semuanya,” kata Desmond di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (11/7/2018).

Pernyataan Desmond tersebut sebagai tanggapan atas pernyataan PKS yang ingin mengejar efek ekor jas (coat-tail effect) di pilpres dengan mengusung kader sebagai cawapres. Efek ekor jas dapat diartikan sebagai pengaruh figur dalam meningkatkan suara partai di pemilu.

Baca: Gerindra Wajib Ambil Cawapres dari PKS, Tifatul: Tak Bisa Ditawar Lagi

Desmond kemudian mengungkit kembali bagaimana pecahnya koalisi pasca Pilpres 2014. Dia menceritakan soal anggota Koalisi Merah Putih (KMP) pendukung Prabowo Subianto yang mundur satu per satu dan berbalik menjadi mendukung Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Desmond menilai, koalisi tersebut hanya untuk kepentingan partai, bukan bangsa.

“Kan kita paham berkoalisi gimana KMP dan KIH (Koalisi Indonesia Hebat) yang lalu. Saya udah ngomong di mana-mana dulu kan, bentar lagi akan pecah, PAN keluar. Jadi ini kan koalisi-koalisi semu, bukan dalam rangka kepentingan pembangunan nasional untuk rakyat, tapi adalah bagaimana menikmati kekuasaan untuk kepentingan kelompoknya,” jelas Desmond.

Desmond pun menyesalkan pernyataan elite PKS soal syarat cawapres tak bisa ditawar. Baginya, alangkah baiknya jika koalisi memikirkan cara mengalahkan Jokowi lebih dulu, bukan mementingkan kekuasaan.

“Semua orang kesannya adalah mengancam. Jadi menyamakan persepsi bahwa kita harus mengalahkan Jokowi. Ini kan belum, tiba-tiba orang muncul dengan statement kalau bukan wapresnya, keluar. Ini ada apa?” ujarnya.

Desmond menduga, akan ada langkah kejutan dari PKS. Dia menyamakan PKS dengan Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais, yang kini mengaku siap nyapres.

“Yang saya tunggu juga adalah jangan-jangan PKS ingin nomor satu, seperti Amien Rais ingin jadi presiden juga, semakin kacau balau kan. Menang belum tentu, yang ada orang mimpi jadi presiden. Ini kan lucu juga,” ucap Desmond.

Kendati demikian, Desmond menegaskan hubungan Gerindra-PKS masih sangat baik. Wakil Ketua Komisi III DPR itu juga memahami sikap PKS yang menginginkan posisi cawapres Prabowo.

“Secara hubungan tetap harmonis, tapi ya kita juga paham kalau PKS resah ya wajar-wajar juga. Semuanya kita maklum,” ucapnya.

Baca: Lewat Surat Terbuka, Elite PKS Ini Tagih Janji Anies Terkait Kepemimpinan di DKI

Sebelumnya, Anggota Majelis Syuro PKS, Tifatul Sembiring mengatakan, Gerindra harus mengambil cawapres dari kader PKS jika masih ingin berkoalisi pada pemilihan presiden (Pilpres) 2019 nanti.

Bahkan Tifatul menegaskan, PKS lebih memilih pecah kongsi dengan Gerindra jika kadernya tak ada yang dipilih jadi cawapres pendamping Prabowo Subianto. Tifatul tak ingin PKS hanya jadi pelengkap pilpres.

Syarat tersebut, menurut Tifatul, sudah tak bisa ditawar lagi.

“Cawapres harus dari PKS. Kami nggak mau jadi penggembira saja dalam pilpres ini,” tegas Tifatul di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (10/7/2018).

“Jadi, sesuai dengan kesepakatan awal dengan Gerindra, kita tetap masih mencalonkan Pak Prabowo so far berpasangan dengan cawapres dari PKS. Itu nggak bisa ditawar-tawar,” ujarnya.

Baca juga: Anies Disebut Pernah Temui Prabowo Minta Restu Maju Pilpres

Loading...

Berita lainnya