Legislatif

Protes Harga Pertamax, Fahri Hamzah Dianggap Seperti Katak dalam Tempurung

Ketua DPP Hanura, Inas Nasrullah Zubir
Ketua DPP Hanura, Inas Nasrullah Zubir. (Foto: Merdeka.com)

Jurnalpolitik.id – Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah memprotes keras dinaikkannya harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax pada Minggu (1/7/2018) kemarin. Fahri pun menuding pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah merampas subsidi rakyat.

Menanggapi protes tersebut, Partai Hanura mempertanyakan rakyat mana yang diwakili Fahri dalam tudingan itu.

“Fahri Hamzah mengatakan bahwa pemerintah rampas subsidi rakyat, tapi rakyat yang mana?” kata Ketua DPP Hanura, Inas Nasrullah Zubir, kepada wartawan, Kamis (5/7/2018).

Inas mengingatkan, sejak pemerintahan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Pertamax tak pernah disubsidi.

“Padahal sejak era SBY pun Pertamax tidak pernah disubsidi, lalu selama ini, sejak periode yang lalu, Fahri Hamzah ngapain aja? Kok seperti katak dalam tempurung nggak tahu informasi BBM,” ujar Inas.

Baca juga: BBM Pertamax Naik Tanpa Pemberitahuan Media, PKS Kecam Pertamina

Bahkan, Wakil Ketua Komisi VI DPR itu sempat menilai Fahri adalah pembela koruptor dan orang-orang kaya pengguna Pertamax.

“Selama ini kita tahu bahwa Fahri adalah pembela koruptor, tapi kali ini kita juga jadi tahu bahwa dia ternyata juga pembela orang berduit konsumen Pertamax,” ucap Inas.

Inas kemudian menjelaskan soal harga BBM di era Jokowi. Dia membandingkannya dengan era SBY. Berikut ini perbandingannya versi Inas:

Premium:

Era SBY

Pada awal SBY menjabat presiden, harga Premium Rp 1.820. Kemudian terjadi kenaikan 2 kali pada 2005 dan 2008 menjadi Rp 6.000. Di tahun yang sama, turun 2 kali menjadi Rp 5.000. Dan pada 2009 turun lagi menjadi Rp 4.500. Namun, pada 2013 terjadi lonjakan harga yang luar biasa, menjadi Rp 6.500.

Era Jokowi

Di awal pemerintahan Jokowi, harga minyak dunia melambung secara signifikan serta adanya kebijakan penghapusan subsidi bensin Premium sehingga pada 2014 naik menjadi Rp 8.500. Tapi kemudian pada 2015 turun menjadi Rp 7.600, lalu turun lagi menjadi Rp 6.800. Di tahun yang sama juga naik lagi Rp 7.300, kemudian pada 2016 turun lagi Rp 6.950, dan pada 2017 turun menjadi Rp 6.550 sampai sekarang.

Baca juga: Pastor Djonga: Harga BBM Turun Hanya Saat Jokowi Blusukan ke Papua

Harga Pertamax naik Rp 600

Diketahui, PT Pertamina (Persero) memutuskan untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax pada Minggu (1/7/2018) kemarin. Harga Pertamax naik Rp 600 menjadi Rp 9.500 per liter.

Kemudian harga Pertamax Turbo naik Rp 600 menjadi Rp 10.700 per liter. Sedangkan harga Pertamina Dex naik Rp 500 menjadi Rp 10.500 per liter. Sementara harga Dexlite naik Rp 900 menjadi Rp 9.000 per liter.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Adiatma Sardjito mengatakan, penyesuaian harga BBM jenis Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite dan Pertamina Dex, merupakan dampak dari harga minyak mentah dunia yang terus merangkak naik. Saat ini harga minyak dunia rata-rata mencapai USD 75 per barel.

“Bahan baku BBM adalah minyak mentah, tentunya ketika harga minyak dunia naik akan diikuti dengan kenakan harga BBM,” kata Adiatma.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, keputusan perseroan menaikkan BBM jenis Pertamax sudah melalui pertimbangan secara matang. Dia pun yakin perubahan harga tersebut tak akan mengganggu daya beli masyarakat.

“Mestinya sudah dihitung sama mereka (Pertamina), enggak lah (mengganggu daya beli masyarakat),” kata Luhut saat ditemui di Kantornya, Jakarta, Selasa (3/7/2018).

Namun, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah memprotes keras kenaikan harga tersebut. Fahri menuding pemerintah telah merampas subsidi rakyat.

“Naikin harga BBM itu merampas subsidi rakyat. Merampas subsidi rakyat itu harus pakai UU. Minimal presiden bikin Perppu dong. Masak Pertamina disuruh merampas subsidi rakyat?” kata Fahri di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (3/7/2018).

Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah.

Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah. (Foto: detikcom)

Fahri pun meminta penjelasan pemerintah. Sebab, kata dia, masyarakat pastilah mempertanyakan pencabutan subsidi BBM jenis tertentu.

“Itu juga orang nanya, gimana sih? Uangnya itu berapa, laporin. Sekali nyabut subsidi itu berapa uang yang kamu dapati, uang itu untuk apa, tanggung jawab dong,” kata Fahri.

Fahri menuding pemerintah asal mencabut subsidi BBM. Rakyat pun, kata Fahri, dibuat kaget karena saat bangun tidur, harga BBM telah naik.

“Ini enak aja main cabut, tengah malam main cabut. Bangun-bangun kita harga BBM udah beda. Ini kan pusing negara kayak begini. Udah belasan kali naikin harga BBM,” tuding Fahri.

Loading...

Berita lainnya