Hankam

Terkait Video Tentang Soeharto, Berkarya: Kami Siap Melawan PSI

Priyo Budi Santoso
Priyo Budi Santoso. (Foto: Antara/Sigid Kurniawan)

Jurnalpolitik.id – Partai Berkarya pimpinan Tommy Soeharto tak terima dengan langkah Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang merilis video tentang dugaan pelanggaran HAM oleh rezim Soeharto.

“Selama ini kita menenggang rasa terhadap kepemimpinan Presiden Jokowi. Itu kenapa kami kemarin belum tertarik untuk ikut menggerakkan tagar #2019GantiPresiden dan lebih fokus viralkan #2019gantilegislatif,” kata Sekjen Partai Berkarya, Priyo Budi Santoso, kepada detikcom, Minggu (3/6/2018).

“Tapi tingkah polah sombong dari PSI yang memuja-muja keluarga Jokowi setinggi langit dengan menista keluarga Soeharto telah cukup beri kesimpulan: kami akan kembali berhitung ulang dengan sikap politik yang lebih jelas,” lanjut Priyo.

Priyo menilai, video PSI telah merusak simbol-simbol yang dihormati Partai Berkarya, yakni Soeharto dan keluarganya. Video tersebut dia nilai penuh permusuhan dan hasutan.

“Dan kita tidak boleh biarkan ini semua. Hak kita membela diri. Semua jenjang partai diserukan untuk bersatu padu melawan balik serangan jahat ini. Tidak peduli mereka di-backing-i oleh toke-toke (pengusaha) besar atau penguasa yang mereka dukung sekalipun!” tegas Priyo.

Baca juga: Amien Rais: Soeharto Bukan Pemimpin Bertangan Besi yang Tega Menindas Rakyat

Video yang dipersoalkan adalah satu dari serangkaian video dengan hashtag #Mei98JanganLagi yang khusus diproduksi PSI untuk mengenang 20 Tahun Reformasi di bulan Mei. Sepanjang Mei 2018, PSI setiap hari mengunggah video 1 menit tentang berbagai praktek kotor di masa Orde Baru: pelanggaran HAM, Daerah Operasi Militer, penindasan umat Islam, penculikan aktivis, KKN, pemberangusan pers dan kebebasan berekspresi, BPPC, dan sebagainya.

Priyo pun mengaku terkejut setelah menyaksikan video tersebut. Menurutnya, video itu sudah kelewat batas.

“Saya telah melihat video tersebut, saya terperanjat dalam situasi seperti ini, ada sekelompok orang yang secara terbuka bangga dengan simbol partainya, melakukan kampanye hitam, tendensius. Menghancurkan dan merusak nama baik Pak Harto, keluarga, termasuk diri pribadi ketua umum kami, yaitu Tommy Soeharto, dengan cara-cara yang tidak baik, provokatif, sombong,” ujar Priyo.

“Sudah tentu ini adalah cara yang melewati batas. Silakan saja, partainya ini ingin mengunggul-unggulkan keluarga Pak Jokowi, tapi dengan membandingkan dengan cara yang tidak elok dan tidak beradab, sudah tentu akan timbul pertanyaan kita. Hak kami untuk membela dan melawan balik,” imbuhnya.

“Saya tidak tahu kalau video ini nanti didengar masyarakat luas, biarkan masyarakat menilai sendiri,” katanya.

Priyo meminta PSI menghormati Berkarya. Sesama partai baru, Priyo meminta PSI tak main hina, apalagi terhadap Soeharto, yang notabene Presiden ke-2 RI.

“Jadi kami bertanya, apakah ini yang memang direstui oleh keluarga Pak Jokowi, menghina keluarga presiden lain dengan cara yang sangat sombong, dan merusak, dan mengunggulkan keluarganya. Kalau kami diserang seperti ini, ya hak kami membela diri,” ucapnya.

Sementara itu Ketua Umum Generasi Muda Berkarya (GMB) Raden Andreas Nandiwardhana mengancam akan menuntut PSI ke Bareskrim jika tidak menurunkan video tersebut di semua media sosial. “Kami akan laporkan ke Bareskrim jika PSI tidak meminta maaf dan menurunkan video tersebut,” kata Andreas dalam keterangan tertulis Sabtu (2/6) sebagaimana dikutip dari JawaPos.com

Baca juga: Cerita Yusril Tentang Soeharto yang Kesepian dan Kehabisan Uang di Masa Tua

Namun PSI pun secara tegas menolak untuk meminta maaf terkait video tersebut.

“Kami tidak merasa perlu meminta maaf dan menarik video tersebut,” kata Andy Budiman dalam keterangannya, Minggu (3/5/2018).

“Isi video tersebut sepenuhnya mengandung kebenaran tentang praktik-praktik pelanggaran HAM di era Orde Baru dan kami membuatnya agar rakyat Indonesia sadar akan masa lalu yang kelam yang tak boleh kita ulang kembali,” ucapnya.

“PSI tidak menyerang Pak Harto secara personal, melainkan praktek-praktek politik yang akhirnya membawa pada jatuhnya Pak Harto pada Mei 1998,” jelas Andy.

PSI menilai video tersebut merupakan bagian dari upaya pendidikan politik kepada generasi muda. Ada kemungkinan generasi muda terkecoh dengan upaya pembangunan opini bahwa kondisi Orde Baru jauh lebih baik dari kondisi Indonesia setelah menjalani demokratisasi sejak 1998.

“Upaya penyesatan opini ini harus dilawan. Karena itu PSI merasa bertanggungjawab untuk mengingatkan sekaligus menginformasikan tentang kejahatan-kejahatan Orde Baru,” imbuhnya.

Baca juga: Fadli Zon: Soeharto Presiden Paling Berhasil

Loading...

Berita lainnya