Pemilu

Tommy Soeharto: Rakyat Tahu, Zamannya Siapa yang Lebih Enak

Tommy soeharto rapimnas
Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto (kedua kanan) didampingi Ketua Dewan Pertimbangan Tedjo Edhy Purdijatno (kanan) menghadiri Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) III Partai Berkarya di Solo, Jawa Tengah, Sabtu (10/3/2018). (Foto: Antara/Mohammad Ayudha)

Jurnalpolitik.idHutomo Mandala Putra resmi dilantik sebagai ketua umum Partai Berkarya dalam Rapimnas yang digelar di Solo, Jawa Tengah, Minggu (11/3).

Pria yang akrab disapa Tommy Soeharto itu menargetkan Partai Berkarya bisa meraih 80 kursi DPR RI pada pemilihan legislatif tahun depan.

Dalam pidato sambutannya, putra Presiden Ke-2 RI Soeharto itu meminta kepada seluruh kader partai untuk merapatkan barisan. Selain target nasional, Tommy menargetkan tiap kabupaten/kota minimal meraih tiga kursi legislatif.

”Semoga yang kita cita-citakan untuk DPR RI mendapat 80 kursi bisa kita wujudkan. Mandat ini harus kita upayakan sebaik-baiknya,” kata Tommy.

Setelah pelantikan tersebut, Tommy akan membentuk kepengurusan pusat dalam satu minggu ke depan.

Di samping itu, dia juga memberikan mandat kepada seluruh ketua DPW yang dilantik untuk melengkapi kepengurusan di tingkat provinsi.

”Masih ada 67 DPD yang belum terbentuk di daerah. Ditambah lagi di tingkat daerah harus segera menjaring kader-kader untuk menjadi caleg (calon anggota legislatif, Red),” ujarnya.

Terkait koalisi pada pilpres tahun depan, Tommy masih belum memutuskan akan bergabung dengan poros yang mana. Untuk saat ini Partai Berkarya belum bisa mengusung calon lantaran partai baru.

”Nantinya kami komunikasikan dengan DPW (dewan pimpinan wilayah, Red) untuk memutuskan siapa yang akan didukung,” katanya.

Pengusaha sekaligus politikus kelahiran 15 Juli 1962 itu menegaskan bahwa sosok ayahandanya, HM Soeharto, akan menjadi salah satu identitas partainya. Tidak heran jika di backdrop Rapimnas terpampang foto besar presiden yang memimpin selama 32 tahun itu.

”Kaitan identik dengan Pak Harto hal yang wajar,” katanya.

Tommy mengatakan, yang terpenting adalah mendengar langsung suara rakyat. Dia menyinggung perbedaan kondisi masyarakat di era pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ini dengan era pemerintahan Soeharto.

“Saya kira rakyat makin tahu, mana yang lebih enak dan enggak enak. Biarlah nanti rakyat yang menentukan, rakyat yang menilai zamannya siapa yang lebih enak, siapa yang dapat mengelola bangsa dan negara ini lebih baik,” jelasnya.

Namun dia mengaku akan mendukung jika kebijakan pemerintah berpihak pada rakyat kecil. Dan sebaliknya, partainya akan kritis terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai perlu disikapi.

“Dana desa misalnya, kalau dipakai untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, untuk ekonomi kerakyatan ya kita dukung. Jangan hanya untuk infrastruktur saja. Yang tidak baik, ya akan kita kritisi, contohnya utang negara yang semakin membengkak. Jangan hanya gali lubang tutup lubang untuk sahur utang negara,” ucapnya.

Tommy menilai utang negara bukanlah masalah kecil dan harus segera dicarikan solusinya. Pemerintah harus jelas menentukan roadmap agar Indonesia menjadi negara maju.

Baca: Tommy Kritik Utang Luar Negeri Era Jokowi dan Membandingkan dengan Era Bapaknya

Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Berkarya Muchdi Purwoprandjono membantah fakta adanya beberapa mantan narapidana di partainya akan berakibat buruk. Dia menyebut mantan narapidana pun berhak memilih dan dipilih.

”Apalagi sebenarnya ancaman terbesar bangsa ini sekarang adalah kasus korupsi. Bagaimanapun yang menghancurkan bangsa ini adalah korupsi,” ujar pria yang akrab disapa Muhdi PR itu.

Baca juga: Tommy Soeharto Sebut Banyak Rakyat Kecewa dengan Pemerintahan Jokowi-JK

Loading...

Berita lainnya