Hankam, Hukum

Gerindra Bantah Pernyataan PPP Soal Penyerangan Ulama Diduga oleh Eks Orang Kuat Terkait Pilpres

Ketua DPP Gerindra Ahmad Riza Patria.
Ketua DPP Gerindra Ahmad Riza Patria. (Foto: detikcom)

Jurnalpolitik.id – Partai Gerindra menanggapi pernyataan Ketum PPP Romahurmuziy terkait aktor intelektual penyerangan ulama yang marak terjadi belakangan ini.

Sebelumnya Romahurmuziy alias Rommy berpendapat, ada mantan orang kuat di balik aksi penyerangan tersebut. Dan aksi itu sendiri, kata Rommy, ada kaitannya dengan pemilihan presiden 2019.

Ketua DPP Gerindra Ahmad Riza Patria menilai pernyataan Rommy tersebut berlebihan.

“Dihubungkan kepentingan Pilpres, ya, salah itu! Justru kalau kita ingin berpikir jernih, itu sederhana berpikirnya. Kira-kira yang punya kemampuan, yang punya kekuasaan, punya akses dan lain-lain itu siapa, kalau bicara kepentingan Pilpres?” kata Riza, Kamis (22/2/2018).

Menurut Riza, kasus tersebut harus dipisahkan dengan politik. Riza pun meminta semua pihak untuk tidak mengeluarkan statemen yang justru memancing polemik dan membiarkan aparat penegak hukum fokus menanganinya.

“Jadi itu harus dibedakan. Ya kan, orang juga ketawa seluruh dunia, nggak cuma Indonesia, seluruh dunia ketawa, masa ada orang gila bisa ngebunuh?” ucap Riza.

“Harusnya semua kita nggak bikin polemik. Fokus kita semua mendesak aparat hukum dan pemerintah segera menyelesaikan kasus ini dengan cara membuktikan, mengungkap siapa pelakunya dan apa motifnya. Jauh lebih penting motifnya, kenapa begitu, kan luar biasa,” kata anggota Komisi II ini.

Diketahui, sebelumnya Rommy menyampaikan hasil analisis tim pencari fakta yang diterjunkan PPP terkait penyerangan tokoh agama yang terjadi di sejumlah lokasi akhir-akhir ini. Tim tersebut sudah menyampaikan laporan ke DPP PPP.

Dari temuan-temuan yang sudah dilaporkan kemudian dianalisis oleh PPP. Hasil analisis awal, PPP mengidentifikasi ada kelompok yang memiliki kemampuan melakukan tindakan sistematis dan terencana terkait penyerangan terhadap para pemuka agama. Hasilnya, mengarah ke dua pihak: penguasa dan pihak di luar penguasa.

Identifikasi bahwa ada kelompok berkuasa atau yang pernah berkuasa terkait penyerangan terhadap ulama lalu dianalisis lagi. Analisis didasarkan pada siapa untung dan siapa rugi.

Menurut Rommy, penyerangan terhadap ulama di kampung-kampung di masa lalu, pertama bertujuan memberikan pesan kepada masyarakat sipil agar tidak mencoba-coba menurunkan Soeharto. Tujuan kedua adalah membangun persepsi publik bahwa negara dalam kondisi tidak aman, sehingga harus dipimpin oleh Soeharto, yang memiliki latar belakang militer.

“Nah, yang sekarang, apakah analisis itu tepat kalau diterapkan kepada pemerintahan yang berkuasa? Tidak tepat. Kenapa? Karena memang pemerintahan hari ini pemerintahan sipil, sehingga tidak ada untungnya pemerintahan hari ini atau komponen pemerintahan hari ini melakukan tindakan-tindakan yang memancing, menepuk air didulang terpercik muka sendiri. Sehingga tidak mungkin bagian dari pemerintahan sekarang ini,” kata Rommy.

“Artinya, siapa mereka? Mereka adalah yang pernah menjadi orang kuat di republik ini, siapanya tentu polisi, aparat intelijen harus menggali lebih jauh fakta dan apa di balik fakta,” tutur Rommy.

Baca selengkapnya: Terkait Penyerangan Ulama, PPP: Pelakunya Mantan Orang Kuat untuk Pilpres

Loading...

Berita lainnya