Pernyataan Lengkap Bendahara La Nyalla Soal Petinggi Gerindra yang Minta Rubicon hingga Uang Rp 170 M

oleh
La Nyalla menggelar jumpa pers di Restoran Mbok Berek, Jl Prof Dr Soepomo, Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (11/1/2018).

La Nyalla Mattalitti menuding Partai Gerindra dan Ketua Umumnya, Prabowo Subianto, meminta syarat uang untuk bisa mendapat rekomendasi maju di Pilkada Jawa Timur 2018.

Bendahara La Nyalla, Daniel Hidayat mengatakan, dalam upaya mendapatkan rekomendasi, ada oknum elite Gerindra yang terus-menerus meminta uang.

Mulanya, kata Daniel, La Nyalla diminta memberikan satu unit mobil Rubicon. Saat itu dia tak menaruh kecurigaan apa pun terhadap Gerindra.

“Perjalanan demi perjalanan saya bicara, timbul minta Rubicon, saya iyakan. Satu kabupaten maju minta Rubicon satu. Pada saat itu saya belum main rekam-rekaman karena saya masih percaya,” tutur Daniel dalam konferensi pers di Restoran Mbok Berek, Jl Prof Dr Soepomo, Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (11/1/2018).

Namun makin lama permintaan materi ini terus-menerus dilakukan. Dari permintaan biaya untuk membangun dojo hingga AC.

“Saya punya bukti WA (WhatsApp), bukti SMS, bukti yang menerima. Yang diterima Rp 4 miliar katanya untuk pembikinan dojo. Belum lagi oknum ini minta setiap satu kali survei Rp 300 juta. Survei terus, nggak ada yang beres. Minta AC di Hambalang, Rp 100 juta kasih lagi, kasih terus, ya masalahnya dihambat terus,” kata Daniel.

Terait oknum yang terus-menerus meminta uang, Daniel enggan mengungkapnya ke publik. Dia hanya menyebutkan salah seorang yang terlibat urusan duit ini adalah elite Gerindra berinisial M.

“Saya menerima, sisanya saya ditagih nanti urusan di DPP inisial M. Seusai pertemuan DPP, minta Rp 10 M. Penasaran, Mas La Nyalla minta lanjutinsaja. Saya pancing-pancing deh, habis itu minta Rp 3 M, Rp 4 M, ada telepon, kalau telepon itu kan pakai WA. Nah, WA nggak bisa direkam,” sebut Daniel.

La Nyalla menggelar jumpa pers di Restoran Mbok Berek, Jl Prof Dr Soepomo, Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (11/1/2018).

Dia juga mengungkap ada permintaan uang dengan jumlah fantastis. Duit ini diminta oleh seorang elite Gerindra. Permintaan duit itu direkam.

“Gampang, Bos. Kalau mau rekom dari Partai Gerindra, bawa aja Rp 150-170 miliar, bawa cash. Saya bawa ke Prabowo, beres,” kata Daniel menirukan ucapan oknum elite Gerindra itu.

“Itu direkam teman saya. Ya alhamdulillah berarti ada bukti,” imbuh dia menjelaskan bahwa percakapannya direkam sehingga itu merupakan bukti tersendiri.

Baca: Diminta Setor Rp150 M ke Gerindra Jatim, La Nyalla: Mending Saya Mundur

Menurut Daniel, Gerindra mengajukan permintaan yang sama untuk pemilihan kepala daerah di kabupaten lain dengan nilai beragam, mulai Rp 500 juta hingga Rp 1 miliar karena calon yang hendak maju ialah pengusaha-pengusaha yang satu grup dengannya.

“Kebetulan kami pengusaha muslim. Kadang-kadang punya keuntungan kita saweran, tapi kita tidak pernah kepada para calon (bilang), ‘Nanti kalau elu jadi, gue minta proyek APBN ya, APBD.’ Tidak pernah. Kalau mereka jadi, kita cuma minta tidak dipersulit regulasinya karena kita mau membangun bangsa ini dengan baik,” ungkap Daniel.

“Pada saat itu si M omong lagi, ‘Oke, siapin dana dan plus cek dibikin cek Rp 70 miliar dan tanggal 20 April cek akan on. Kenapa 27 April? Karena mendekati akan pembayaran saksi. Dana itu sudah ada, tapi mau saya aktifkan bulan April. Memang kita kosongkan. Kalau kita mau kasih ke orang, cek itu isi ambil saja ke bank, kan beres. Ini cek, lo, cek alat bayar. Cek ini ada di mana? Ada di Pak Prabowo,” sebut dia.

Daniel mengaku kesaksiannya ini bukan untuk menjatuhkan Gerindra. “Bukan, tapi kita harus luruskan. Kasihan Prabowo dibentengi oleh orang-orang yang tidak baik,” kata Daniel.

Sebelumnya, La Nyalla mengatakan bahwa dirinya dimintai uang oleh Prabowo. Uang tersebut untuk biaya saksi.

“Ada saat tanggal 9 itu yang ditanyakan uang saksi. Kalau siapkan uang saksi, saya direkom. Tapi, kalau uang saksi dari 68 ribu TPS dikali Rp 200 ribu per orang dikali 2 berarti Rp 400 ribu, itu sekitar Rp 28 miliar. Tapi yang diminta itu Rp 48 miliar dan harus diserahkan sebelum 20 Desember 2017. Nggak sanggup saya. Ini namanya saya beli rekom, saya nggak mau,” ujar La Nyalla.

Bantahan Gerindra

Fadli Zon pun membantah keras tudingan tersebut. Fadli menegaskan Prabowo tak pernah meminta uang kepada La Nyalla. Kalaupun ada pembahasan soal uang, itu terkait kesiapan La Nyalla, bukan untuk kepentingan pribadi.

“Kalau dari Pak Prabowo nggak ada ya, dan saya tidak pernah mendengar dan juga menemukan bukti semacam itu,” kata Fadli di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (11/1/2018).

Baca: Habiskan Rp 100 M di Pilkada DKI, Sandiaga: Tak Ada Mahar Sama Sekali